Baju Malangan Diluncurkan 1 April 2026 Tuai Kontroversi: Dinilai Tak Mencerminkan Identitas Asli Malang

 

Malang, Krisnanewstv – Peluncuran baju khas Malangan pada 1 April 2026 menuai kritik tajam dari masyarakat. Alih-alih memperkuat identitas budaya lokal, desain yang diperkenalkan justru dinilai tidak mencerminkan ciri khas Malang dan budaya Jawa pada umumnya.

Sejumlah warga menilai bahwa unsur desain dalam baju tersebut lebih menyerupai gaya kolonial Belanda, dibandingkan dengan kekayaan tradisi lokal.

Salah satu sorotan utama adalah penggunaan topi laken yang dianggap tidak sesuai dengan identitas budaya Malangan. Masyarakat berpendapat bahwa simbol autentik seperti blangkon seharusnya menjadi bagian utama dalam representasi busana tradisional tersebut.

“Ini bukan sekadar soal pakaian, tapi soal jati diri. Jika ciri khas Malangan diubah dan tidak lagi mencerminkan budaya asli, maka identitas kita perlahan bisa hilang,” ujar salah satu warga yang turut menyuarakan protes.

Kritik juga diarahkan kepada Pemerintah Malang yang dianggap kurang melibatkan budayawan dan tokoh adat dalam proses perancangan.

Masyarakat menilai bahwa perubahan pada simbol budaya seharusnya melalui kajian mendalam dan diskusi bersama para ahli budaya, bukan sekadar mengikuti tren atau estetika modern.

Gelombang protes pun bermunculan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Banyak warga berharap agar desain tersebut ditinjau ulang, bahkan tidak sedikit yang meminta agar peluncuran baju tersebut dibatalkan.

Warga masyarakat, Kota Malang menegaskan bahwa inovasi dalam budaya tetap penting, namun tidak boleh menghilangkan akar tradisi.

Mereka berharap identitas Jawa dan Malangan tetap menjadi dasar utama dalam setiap representasi budaya.

“Modern boleh, tapi jangan sampai kehilangan jati diri. Kita ini orang Jawa, bukan Belanda,” tegas salah satu perwakilan masyarakat.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemerintah terkait tuntutan masyarakat tersebut.

Warga berharap adanya dialog terbuka dan evaluasi menyeluruh agar nilai-nilai budaya Malangan tetap terjaga dan dihormati. (dwi)