Tradisi Sesaji Satu Suro ke-120 di Pantai Balekambang Meriah, Ribuan Warga Lestarikan Warisan Leluhur

Berita Krisnanewstv.com || MALANG – Ribuan warga memadati kawasan Pantai Balekambang, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, dalam pelaksanaan Selamatan Adat Sesaji Satu Suro ke-120 Tahun 1960/2938 Jawa dan 1448 Hijriah, Rabu malam (17/6/2026). Tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad tersebut kembali digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus upaya menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Perhelatan budaya yang menjadi agenda tahunan masyarakat pesisir selatan Malang ini berlangsung semarak sejak sore hingga dini hari. Ribuan pengunjung disuguhkan berbagai pertunjukan seni tradisional yang menampilkan kekayaan budaya Jawa Timur.

Kemeriahan acara diawali hiburan campursari yang menghadirkan sejumlah seniman daerah. Suasana semakin hidup saat Tari Remo yang dibawakan Erni Agustin dan Paiseh berhasil memukau para penonton melalui gerakan yang energik dan sarat nilai budaya.

Kebersamaan tampak ketika unsur Muspika, tokoh masyarakat, serta warga berbaur menikmati rangkaian kegiatan. Keharmonisan tersebut menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat dalam menjaga tradisi yang telah menjadi identitas Desa Srigonco.

Kegiatan dihadiri Camat Bantur Bayu Jatmiko, S.STP beserta istri, Kapolsek Bantur, Danramil Bantur, Polairud, TNI AL Sendangbiru, BKPH/Asper, seluruh KRPH wilayah selatan, para kepala desa dan perwakilan desa se-Kecamatan Bantur, mantan kepala desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum.

Ketua Adat Desa Srigonco, Siono Karyo Utomo, mengatakan tradisi Sesaji Satu Suro bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus sarana mempererat persaudaraan masyarakat.

Menurutnya, tradisi tersebut memiliki peran penting dalam memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tetap mencintai dan menjaga warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sementara itu, Kepala Desa Srigonco Didit Puji Laksono menegaskan pemerintah desa berkomitmen mempertahankan tradisi tersebut sebagai identitas budaya masyarakat setempat sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata budaya di Pantai Balekambang.

Salah satu prosesi yang paling menyita perhatian pengunjung adalah penyerahan gunungan hasil bumi yang melambangkan rasa syukur atas hasil panen dan keberkahan yang diterima masyarakat. Gunungan tersebut diserahkan secara berantai mulai dari perwakilan PKK kepada Ketua Adat, dilanjutkan kepada jajaran Muspika, kemudian kepada Kepala Desa Srigonco sebelum akhirnya diserahkan kepada dalang Ki Andi Bayu Sasongko sebagai tanda dimulainya pagelaran budaya.

Camat Bantur Bayu Jatmiko memberikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Desa Srigonco yang mampu menjaga tradisi hingga memasuki penyelenggaraan ke-120 tahun.

Menurutnya, Sesaji Satu Suro merupakan aset budaya yang sangat berharga dan menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Kabupaten Malang yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Usai prosesi adat, kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Andi Bayu Sasongko, S.Sn dengan lakon “Wahyu Pamong Sejati”. Lakon tersebut mengangkat pesan tentang pentingnya kepemimpinan yang amanah, berintegritas, serta mengutamakan kepentingan masyarakat.

Pesan moral yang disampaikan melalui cerita pewayangan tersebut dinilai relevan dengan kehidupan sosial saat ini dan menjadi pengingat bagi para pemimpin agar senantiasa menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan pengabdian kepada masyarakat.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh khidmat. Tradisi Sesaji Satu Suro ke-120 menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup dan mendapat tempat istimewa di tengah masyarakat, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan Malang Selatan kepada masyarakat luas.


Masyarakat diharapkan terus menjaga, melestarikan, dan mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda agar warisan leluhur tidak tergerus perkembangan zaman serta tetap menjadi identitas bangsa Indonesia.

(dwi)