Rakornis Bongkar Ratoon 2026 di PG Krebet Baru, Lang Buana Soroti Kesiapan Benih dan Kendala Cuaca

MALANG – Percepatan program bongkar ratoon tebu di Kabupaten Malang menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Bongkar Ratoon 2026 yang digelar di Pabrik Gula (PG) Krebet Baru, Kecamatan Bululawang, Rabu (28/10/2026).

Dalam forum tersebut, kesiapan benih, ketepatan jadwal tanam, serta koordinasi administrasi menjadi sejumlah poin penting yang dibahas untuk mendukung kelancaran program peningkatan produktivitas tebu dan produksi gula.

Kegiatan ini dihadiri Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan, Mutiara Sari, S.TP., Ph.D., Direktur Hilirisasi Perkebunan, General Manager PG Krebet Baru, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, Ir. Avicenna Medisica Sani Putra, M.T., M.H., serta perwakilan KUD, koperasi, penyuluh pertanian, dan vendor pemenang lelang program bongkar ratoon.

Rakornis tersebut juga membahas percepatan pelaksanaan program, pengelolaan Surat Pertanggungjawaban (SPJ), Hari Orang Kerja (HOK), serta penjadwalan penyaluran benih tebu kepada para vendor.

Lang Buana Tegaskan Kesiapan Benih Sesuai SOP

Lang Buana yang diwakili Imam Safik menyampaikan bahwa benih tebu yang disiapkan pihaknya telah mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) dan ketentuan dalam kontrak lelang.

Menurutnya, kesiapan benih menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan bongkar ratoon. Namun, pelaksanaan di lapangan tidak lepas dari tantangan, terutama kondisi cuaca yang tidak menentu dan perubahan jadwal tanam.

Imam Safik juga menyoroti persoalan hasil uji kelayakan bibit di wilayah Malang. Berdasarkan keterangan yang disampaikannya, tingkat kegagalan bibit dalam pengujian disebut mencapai 80 persen. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab serta dampaknya terhadap pelaksanaan program.

Selain itu, ia menyebut kenaikan harga di tingkat PG turut menjadi persoalan, meskipun petani disebut telah menerima uang muka atau DP dari vendor.

Situasi tersebut memerlukan koordinasi antara vendor, petani, pemerintah, penyuluh pertanian, dan pihak pabrik gula agar perubahan jadwal tanam maupun persoalan ketersediaan bibit tidak menghambat pelaksanaan program.

Produksi dan Rendemen Gula Jadi Perhatian

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang, Ir. Avicenna Medisica Sani Putra, menekankan pentingnya menjaga kualitas produksi tebu guna mendukung peningkatan produksi dan rendemen gula.

Program bongkar ratoon menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman tebu. Karena itu, pelaksanaannya membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pabrik gula, koperasi, penyuluh hingga vendor pelaksana.

Kesiapan benih, ketepatan distribusi, dan kesesuaian jadwal penanaman perlu menjadi perhatian bersama agar pelaksanaan program berjalan sesuai rencana.

Koordinasi Diperlukan untuk Mengatasi Kendala Lapangan

Rakornis Bongkar Ratoon 2026 diharapkan menjadi ruang koordinasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan teknis dan administrasi. Termasuk di dalamnya penyesuaian jadwal penyaluran benih, penyelesaian dokumen SPJ dan HOK, serta evaluasi kendala yang muncul selama pelaksanaan program.

Sorotan mengenai kegagalan uji kelayakan bibit dan kenaikan harga juga memerlukan klarifikasi dari pihak terkait agar penyebabnya dapat diketahui secara jelas dan solusi yang tepat bisa disiapkan.

Dengan koordinasi yang terukur, program bongkar ratoon di Kabupaten Malang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tebu sekaligus mendukung produksi gula nasional.

Jurnalis: Aripin

Krisnanewstv.com