Meriahkan Tradisi Sesaji 1 Suro, Sinergi Budaya dan Kesehatan di Pantai Regent Balekambang
MALANG, Krisnanewstv.com – Tradisi Sesaji 1 Suro ke-120 Tahun Jawa (1960–2938 Jawa dan 1448 Hijriah) berlangsung meriah dan penuh khidmat di Pantai Regent Balekambang, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Sabtu (18/7/2026). Rangkaian kegiatan budaya tersebut diwarnai pagelaran wayang kulit, larungan sesaji, doa bersama, serta berbagai kegiatan adat yang menjadi warisan turun-temurun masyarakat setempat.
Tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad ini menjadi momentum penting dalam menjaga kelestarian budaya leluhur sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual, sosial, dan kesehatan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan adat ini turut melibatkan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIKes Widyagama Husada (WGH) Malang di bawah bimbingan dosen pembimbing Ahmad Guntur Alfianto, S.Kep., Ners., M.Kep. Kehadiran mahasiswa menjadi bentuk nyata implementasi visi dan misi Program Studi Pendidikan Ners dalam mengembangkan budaya kearifan lokal yang terintegrasi dengan aspek kesehatan masyarakat.
Tradisi Sesaji 1 Suro merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Jawa dalam menyambut Tahun Baru Jawa. Prosesi adat tersebut diisi dengan doa bersama, tirakatan, serta penyajian sesaji sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus harapan akan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan di tahun yang baru.
Selain itu, momen 1 Suro juga dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi diri, memperkuat nilai spiritual, serta mempererat hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN tidak hanya membantu teknis pelaksanaan acara, seperti penataan lokasi, pendampingan kegiatan warga, hingga dokumentasi, tetapi juga memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Edukasi tersebut meliputi pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan pola hidup sehat, serta meningkatkan kesiapsiagaan selama kegiatan yang melibatkan banyak peserta.
Koordinator KKN STIKes WGH menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam tradisi budaya ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang menggabungkan ilmu kesehatan dengan nilai-nilai budaya lokal.
“Melalui kegiatan ini mahasiswa dapat memahami bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup aspek sosial, budaya, dan spiritual. Nilai gotong royong, kebersamaan, serta ketenangan batin yang tumbuh dalam tradisi seperti ini memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Masyarakat Desa Srigonco pun menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN yang dinilai mampu memberikan energi baru dalam upaya pelestarian budaya. Kolaborasi antara masyarakat dan kalangan akademisi diharapkan dapat menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan berbasis kearifan lokal.
Dengan suasana yang penuh kekhidmatan dan kebersamaan, rangkaian kegiatan Sesaji 1 Suro ditutup dengan doa bersama sebagai harapan agar seluruh masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru.
(Arifpin)
