Polres Malang Berupaya Cari Sumber Air, Dua Sumur Bor di Sumberagung Belum Membuahkan Hasil

Malang, Krisnanewstv.com – Krisis air bersih yang melanda warga Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, semakin memprihatinkan. Di tengah sulitnya warga mendapatkan sumber air, upaya Polres Malang mencari solusi melalui pengeboran sumur bor di dua titik hingga kini belum membuahkan hasil.

Persoalan ini mencuat setelah Sungai Panguluran, atau yang oleh masyarakat setempat disebut Kali Besar, tidak lagi dapat dimanfaatkan seperti sebelumnya. Saat awak media berada di lokasi pada Kamis (13/8/2026), aliran sungai yang selama ini menjadi salah satu sumber kebutuhan warga terlihat berwarna cokelat dan keruh.

Warga menduga perubahan kondisi air tersebut berkaitan dengan aktivitas pertambangan di kawasan Gunung Bale. Namun, dugaan pencemaran tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan pembuktian secara teknis oleh instansi berwenang.

Polres Malang Turun Tangan

Menyikapi keluhan masyarakat, Polres Malang melakukan upaya mencari sumber air alternatif dengan pengeboran di dua lokasi.

Titik pertama berada di sekitar SMP Negeri 2 Sumberagung dengan kedalaman sekitar 70 meter. Namun, proses tersebut dilaporkan menemui kendala dan belum menemukan sumber air yang diharapkan.

Pengeboran kemudian dilakukan di titik kedua, yakni di depan Kantor Desa Sumberagung, dengan kedalaman sekitar 90 meter. Lagi-lagi, hasilnya belum sesuai harapan.

Upaya tersebut menjadi bukti bahwa persoalan air bersih di Sumberagung tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Ketika sumber air utama warga bermasalah, sementara upaya mencari sumber alternatif juga belum berhasil, kebutuhan akan solusi semakin mendesak.

Kepala Desa Sumberagung, Muzayid, mengapresiasi langkah Polres Malang yang telah turun langsung membantu masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kepedulian Polres Malang yang sudah berupaya maksimal turun ke lapangan untuk mengebor tanah demi mencari air bersih. Namun, kondisi geografis di bawah tanah memang sangat sulit,” ujar Muzayid.

Menurutnya, tim teknis menghadapi lapisan batuan keras sehingga proses pengeboran belum mendapatkan sumber mata air yang diharapkan.

“Kami mendapat laporan dari tim teknis bahwa proses pengeboran belum membuahkan hasil karena terhalang lapisan batuan keras dan sulitnya menjangkau titik mata air,” tambahnya.

Muzayid menegaskan, masyarakat saat ini sangat membutuhkan perhatian karena Sungai Panguluran yang selama ini dimanfaatkan warga tidak lagi bisa digunakan seperti sebelumnya.

Kapolsek: Tetap Dilaporkan kepada Pimpinan

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kapolsek Sumbermanjing Wetan Iptu Cahyo Wiyono, SE, membenarkan bahwa upaya pengeboran tersebut belum membuahkan hasil.

Menurutnya, perkembangan kondisi di lapangan tetap akan disampaikan kepada pimpinan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dengan demikian, perjuangan mencari sumber air bagi warga Sumberagung belum berhenti. Kegagalan dua titik pengeboran justru menjadi pekerjaan rumah baru bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait.

Warga Tidak Menolak Tambang, Tetapi Meminta Solusi

Di tengah persoalan tersebut, warga menegaskan bahwa mereka tidak sedang melakukan penolakan terhadap keberadaan aktivitas pertambangan.

Masyarakat memahami bahwa keberadaan tambang juga berkaitan dengan aktivitas ekonomi dan lapangan pekerjaan. Namun, warga meminta agar keberadaan kegiatan pertambangan tidak membuat kebutuhan dasar masyarakat terabaikan.

Air bersih menjadi tuntutan utama warga.

Mereka berharap Pemkab Malang, Polres Malang, pemerintah desa, Perumda air minum, serta instansi terkait segera duduk bersama mencari solusi permanen, bukan sekadar mengandalkan bantuan air bersih yang sifatnya sementara.

Evaluasi titik pengeboran, pencarian sumber air alternatif, hingga kemungkinan penyediaan jaringan air bersih menjadi sejumlah opsi yang diharapkan masyarakat.

Di sisi lain, jika dugaan pencemaran Sungai Panguluran memang berkaitan dengan aktivitas pertambangan, masyarakat juga berharap dilakukan pemeriksaan kualitas air secara resmi agar persoalan tersebut dapat diketahui berdasarkan data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun aktivitas pertambangan Gunung Bale berada di wilayah Desa Argotirto, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Dalam informasi yang diterima awak media, aktivitas tersebut dikaitkan dengan PT Mineral Indonesia dan PT Anugerah Tambang.

Hingga berita ini dirilis, awak media masih menunggu konfirmasi dari pihak-pihak terkait mengenai aktivitas pertambangan, kondisi kualitas air Sungai Panguluran, serta langkah penanganan krisis air bersih warga Sumberagung.

Bagi masyarakat, persoalannya kini sederhana tetapi sangat mendasar: mereka membutuhkan air untuk hidup.

Dan ketika dua titik pengeboran belum menghasilkan air, harapan warga kini tertuju pada langkah berikutnya—siapa yang akan memberikan solusi nyata sebelum krisis air semakin panjang?

Suryadi