Aksi Damai Rekan Indonesia Jilid IV di Kediri: Ratusan Wali Murid Mengadu, Cabdin Kediri Masih Diam

Berita Krisnanewstv.com || Kediri – Kamis (21/8/2025) siang, aksi damai jilid keempat yang digelar Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) Jawa Timur kembali mewarnai Kota Kediri. Massa bergerak mulai pukul 10.00 hingga 13.30 WIB dengan mendatangi tiga titik yakni, SMA Negeri 4 Kediri, SMKN 3 Kediri, hingga berakhir di depan kantor Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Kediri.
Ketua Rekan Indonesia, Bagus Ramadhan, dalam orasinya menegaskan bahwa aksi ini merupakan kelanjutan dari keresahan masyarakat terkait dugaan pungutan liar (pungli) di sekolah. Menurutnya, praktik pungutan oleh paguyuban maupun komite masih terjadi, bahkan terkesan dilegalkan.
“Kalau sampai akhir Agustus tidak ada titik temu, kami siap melakukan aksi berjilid-jilid bahkan sampai dua bulan penuh di seluruh SMA/SMK negeri Kediri. Kami juga akan meminta dinas pendidikan provinsi, kepolisian, dan kejaksaan untuk memeriksa anggaran BOS maupun BPUPP karena banyak dugaan penyelewengan yang kami temukan,” tegas Bagus.

Senada, Arif, salah satu perwakilan lembaga masyarakat, menambahkan bahwa perjuangan ini tidak berarti menolak komite sekolah. Namun, keberadaannya harus jelas regulasi dan tidak boleh menjadi alat pemaksaan pungutan. “Kami tidak alergi dengan komite sekolah, tapi pungutan jangan dipaksakan. Kalau Cabdin masih diam saja, kami akan terus bergerak,” ujarnya.
Aksi ini berlangsung tertib dengan pengawalan ketat aparat Kepolisian Kediri Kota. Namun, kekecewaan massa memuncak lantaran tidak ada perwakilan Cabdin Kediri yang menemui mereka. Sebagai bentuk protes, massa kemudian membakar ban di depan kantor Cabdin sebagai simbol matinya nurani pendidikan.
Bagus menegaskan, langkah itu bukan untuk menciptakan kericuhan, tetapi sebagai simbol keras bahwa persoalan pendidikan di Kediri harus segera ditangani. Ia bahkan menyebut aksi mendatang bisa lebih ekstrem dengan membawa satu truk ban bekas dan mobil jenazah lengkap dengan keranda.
“Selama ini ketika kita bawa mobil sehat, mereka menghiraukan. Maka nanti akan kita tambah dengan mobil jenazah dan keranda sebagai simbol matinya nurani pendidikan,” pungkasnya.

Hingga aksi keempat ini, Rekan Indonesia mencatat lebih dari 400 aduan masyarakat terkait pungutan sekolah, meningkat dari aksi sebelumnya yang hanya 300 laporan.
Masyarakat, khususnya orang tua siswa, diimbau untuk lebih kritis terhadap setiap pungutan sekolah yang tidak memiliki dasar hukum jelas. Aduan dan laporan diharapkan terus disampaikan agar praktik yang merugikan itu bisa segera dihentikan.(yns)
