Pendopo Agung Bantur, DPRD Kelompok 12 Tekankan Pentingnya Benteng Informasi Warga

MALANG, Krisnanewstv.com — Derasnya arus informasi di media sosial membuat kemampuan masyarakat dalam memilah dan memverifikasi informasi semakin penting. Tidak semua informasi yang beredar dapat langsung dipercaya, terlebih ketika kabar tersebut belum jelas sumber dan kebenarannya.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Membangun Ketahanan Informasi Masyarakat Melalui Penguatan Literasi Digital di Kecamatan Bantur”, yang digelar di Pendopo Agung Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Rabu (16/9/2026), mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Kecamatan Bantur bersama DPRD Kabupaten Malang Kelompok 12. Hadir dalam kegiatan itu jajaran perangkat kecamatan, kepala desa, tokoh masyarakat, kelompok informasi masyarakat, media lokal, hingga YouTuber.

Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Malang Kelompok 12 turut menjadi narasumber, yakni Hadi Mustofa, S.Kom. dari Partai Demokrat, Sodikul Amin dari Partai NasDem, Feri Andi Suseko dari Partai Gerindra, serta Abdul Azis dari PKS. Turut hadir Hasan dari DPMD dan Iwan dari Diskominfo Kabupaten Malang.

Camat Bantur Bayu Jatmiko, S.STP. berhalangan hadir karena mengikuti rapat di tingkat Kabupaten Malang. Kehadirannya diwakili Freda Pratama Putra, Plt. Renfapor, yang sekaligus bertindak sebagai moderator.

Dalam pengantarnya, Freda menyampaikan bahwa FGD tersebut menjadi ruang bersama untuk membangun kesadaran masyarakat menghadapi derasnya informasi digital, terutama maraknya informasi yang tidak benar atau menyesatkan.

“Banyak berita hoaks yang beredar. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya,” ujarnya.

Literasi Digital Bukan Sekadar Bisa Menggunakan Teknologi

Anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi NasDem, Sodikul Amin, mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mendapatkan sekaligus menyampaikan informasi.

Menurutnya, informasi kini dapat diterima masyarakat hanya dalam hitungan detik melalui media sosial. Kondisi tersebut memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan risiko apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk melakukan verifikasi.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi yang bersifat provokatif dan belum jelas sumbernya.

“Masyarakat harus mampu melihat sumber informasi yang dapat dipercaya. Jangan mudah terpancing informasi yang provokatif. Gunakan media digital secara bertanggung jawab, periksa kebenaran informasi dan bedakan antara fakta, opini maupun informasi yang sengaja dipelintir,” pesannya.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di tingkat desa.

DPRD Dorong Warga Lebih Cerdas Memilah Informasi

Sementara itu, Abdul Azis, anggota DPRD Kabupaten Malang Kelompok 12, menekankan bahwa ketahanan informasi merupakan bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat.

Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi arus informasi yang sangat cepat, sementara tidak seluruh informasi yang beredar telah melalui proses verifikasi.

“Ketahanan informasi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk masyarakat dan kami di legislatif,” ujarnya.

Ia juga menilai ruang digital yang sehat dapat mendukung terciptanya lingkungan masyarakat yang kondusif bagi pembangunan daerah.

Karena itu, DPRD Kelompok 12 menyatakan dukungan terhadap program edukasi literasi digital yang menyentuh masyarakat hingga pelosok desa.

“Kita harus memastikan warga Bantur semakin melek digital, cerdas memilah berita dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi palsu yang dapat memecah belah masyarakat,” tambahnya.

Kades Srigonco Usulkan FGD Rutin

Gagasan agar edukasi literasi digital dilakukan secara berkelanjutan juga disampaikan Didit Puji Leksono, S.Pt., S.H., M.H., Kepala Desa Srigonco.

Ia berharap forum serupa tidak hanya digelar sekali, tetapi dapat dilaksanakan secara rutin, misalnya setiap satu bulan sekali dengan lokasi dan waktu yang berbeda.

Menurut Didit, pertemuan rutin dapat menjadi sarana menjaga komunikasi sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya.

“Harapannya kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan rutin setiap bulan, meskipun ruang, waktu dan tempatnya berbeda. Tujuannya agar masyarakat Kecamatan Bantur tetap guyub, rukun dan kondusif serta tidak mudah terpengaruh berita hoaks atau informasi yang tidak jelas,” ungkapnya.

Saring Sebelum Sharing

FGD yang berlangsung secara interaktif tersebut menghasilkan sejumlah gagasan taktis, di antaranya optimalisasi kelompok informasi di tingkat desa serta penguatan kebiasaan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

Pesan “Saring Sebelum Sharing” menjadi salah satu poin penting yang ditekankan dalam forum tersebut.

Langkah sederhana itu diharapkan menjadi kebiasaan baru masyarakat Bantur dalam menghadapi derasnya arus informasi digital.

Sebab, di era ketika sebuah informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa sumber, membandingkan informasi dan memastikan kebenarannya menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan masyarakat.

(Suryadi)