Jembatan Gantung Cinta Druju Ambrol, Warga dan Pemuda The Gank Keramat Turun Tangan! Pemkab Malang dan DPRD Dipertanyakan
MALANG Krisnanewstv.com – Ketika fasilitas publik ambrol dan akses masyarakat terancam lumpuh, siapa yang seharusnya bergerak lebih dahulu? Pertanyaan itu kini muncul dari warga RT 29 Dusun Wonorejo, Gimbloh, Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.
Jembatan Gantung Cinta yang selama ini menjadi akses penting masyarakat dilaporkan ambrol hingga terputus total. Kondisi tersebut membuat warga harus menghadapi persoalan serius karena jembatan itu menjadi jalur penghubung aktivitas ekonomi, pendidikan, serta mobilitas sehari-hari.
Ironisnya, di tengah kebutuhan penanganan infrastruktur tersebut, warga justru bergerak secara swadaya. Bersama tokoh masyarakat dan komunitas pemuda The Gank Keramat, mereka bergotong royong memperbaiki jembatan dengan kemampuan dan sumber daya seadanya.
Hingga Sabtu (7/11/2026), kegiatan perbaikan masih terus berlangsung. Warga bersama teknisi lokal bernama Andik berupaya melakukan penanganan darurat agar akses masyarakat tidak semakin terganggu.
Sejumlah tokoh dan warga terlihat terlibat langsung, di antaranya Joko selaku Ketua RT, teknisi Andik, Nopek, Dani, para pemuda The Gank Keramat, Bayan Margianto, serta Kasun Ginawan. Warga lainnya juga diharapkan ikut bergabung dalam kegiatan tersebut.
Namun, di balik semangat gotong royong itu, tersimpan kekecewaan sekaligus pertanyaan besar masyarakat terhadap tanggung jawab pemerintah daerah.
Jembatan Fasilitas Publik, Mengapa Warga Harus Menanggung Beban Sendiri?
Bagi masyarakat Wonorejo, jembatan tersebut bukan sekadar bangunan penghubung. Keberadaannya menyangkut kepentingan banyak orang, mulai dari petani, pekerja, hingga anak-anak yang membutuhkan akses menuju sekolah.
Ketika jembatan terputus, dampaknya bukan hanya soal perjalanan yang semakin sulit. Aktivitas ekonomi warga ikut terganggu dan keselamatan masyarakat menjadi perhatian serius.
Seorang warga yang mewakili masyarakat RT 29, namun meminta identitasnya tidak dipublikasikan, menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut.
“Kami sudah tidak bisa hanya menunggu janji. Jembatan ini ambrol dan sangat membahayakan. Karena akses ini penting bagi masyarakat, kami terpaksa bergotong royong bersama pemuda The Gank Keramat dan teknisi lokal. Kami iuran dan bekerja dengan kemampuan seadanya agar ada penanganan,” ungkapnya.
Meski demikian, warga menegaskan bahwa perbaikan swadaya tersebut bukan berarti persoalan sudah selesai. Mereka masih membutuhkan perhatian dan bantuan pemerintah untuk membangun kembali jembatan secara permanen dengan konstruksi yang layak dan aman.
Pemkab Malang dan DPRD Jangan Tutup Mata
Kekecewaan warga kemudian mengarah pada Pemerintah Kabupaten Malang dan DPRD Kabupaten Malang, khususnya pihak-pihak yang memiliki wilayah tanggung jawab maupun keterkaitan dengan daerah pemilihan setempat.
Masyarakat mempertanyakan sejauh mana perhatian pemerintah daerah terhadap kerusakan fasilitas publik yang berdampak langsung pada kehidupan warga.
“Ini fasilitas publik, bukan milik pribadi. Kami ingin tahu di mana peran dinas terkait di Pemkab Malang dan bagaimana perhatian para wakil rakyat dari dapil kami. Ketika masyarakat membutuhkan akses penting seperti ini, siapa yang memperjuangkan kebutuhan kami?” tegas perwakilan warga.
Menurut warga, semangat gotong royong memang patut diapresiasi. Namun, jangan sampai semangat tersebut justru menjadi alasan bagi pemerintah untuk membiarkan masyarakat menyelesaikan sendiri persoalan infrastruktur yang membutuhkan penanganan serius.
Jangan Tunggu Ada Korban Baru Bergerak
Persoalan Jembatan Gantung Cinta seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kerusakan hingga terputus total bukan persoalan kecil yang bisa dibiarkan tanpa kepastian penanganan.
Pemerintah Kabupaten Malang melalui dinas teknis terkait perlu segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan kondisi konstruksi, menentukan langkah pengamanan, serta menyusun rencana perbaikan permanen sesuai standar keselamatan.
DPRD Kabupaten Malang juga diharapkan menjalankan fungsi pengawasan dan mendorong agar persoalan yang dihadapi masyarakat mendapatkan perhatian serta tindak lanjut yang jelas.
Sementara itu, warga perlu memastikan area jembatan yang rusak tidak digunakan sebelum dinyatakan aman oleh pihak teknis. Perbaikan darurat secara swadaya tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat.
Kini, pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: sampai kapan warga harus mengandalkan iuran dan tenaga sendiri untuk memulihkan fasilitas publik yang menjadi kebutuhan bersama?
Gotong royong warga dan pemuda The Gank Keramat merupakan bukti kepedulian sosial yang patut dihargai. Namun, tanggung jawab penanganan infrastruktur publik tetap membutuhkan kehadiran pemerintah.
Jangan sampai Jembatan Gantung Cinta hanya ramai dibicarakan ketika ambrol, tetapi sepi perhatian ketika masyarakat membutuhkan solusi.
Redaksi Krisnanewstv.com membuka ruang konfirmasi dan hak jawab kepada Pemerintah Kabupaten Malang, dinas terkait, serta DPRD Kabupaten Malang untuk memberikan penjelasan mengenai status kewenangan jembatan, rencana penanganan, dan kepastian perbaikan permanen.
(Suryadi)
