DIDUGA SISWA DITAMPAR GURU, SMPN 1 NGASEM DISOROT: KEPALA SEKOLAH ARAHKAN MEDIA KE “POKJA”
KEDIRI – Dugaan kasus kekerasan terhadap siswa di SMPN 1 Ngasem kian menjadi sorotan publik. Setelah pengakuan korban mencuat, kini sikap pihak sekolah justru memantik tanda tanya besar.
Denis, siswa yang diduga menjadi korban, mengaku dipukul oleh oknum guru meski telah meminta izin sebelumnya.
> “Saya sudah izin untuk cuci tangan, tapi tetap dipukul tiga kali,” ungkap Denis saat dikonfirmasi awak media.
Kronologi Singkat
Peristiwa terjadi sekitar Januari saat korban masih duduk di kelas 8. Setelah kembali dari luar kelas, ia mengaku ditarik teman, lalu dipanggil masuk dan dimintai keterangan. Meski telah menjelaskan, ia tetap mendapat tamparan di depan teman-temannya.
Tak hanya itu, korban juga menyebut tidak ada permintaan maaf maupun klarifikasi dari guru yang bersangkutan.
Pihak Sekolah Bungkam, Arahkan ke “Pokja”
Saat awak media mencoba melakukan konfirmasi kepada Kepala SMPN 1 Ngasem melalui WhatsApp, respons yang diberikan justru terkesan menghindar dari substansi persoalan.
Dalam pesan singkatnya, pihak sekolah menyampaikan:
> “Untuk media sudah dibentuk Pokja, silakan menghubungi atau menemui Pokja yang sudah ada.”
Pernyataan tersebut justru memunculkan kebingungan di kalangan awak media. Sebab, ketika diminta penjelasan lebih lanjut terkait pokja yang dimaksud, pihak sekolah tidak memberikan keterangan rinci.
Awak media bahkan telah menegaskan bahwa konfirmasi dilakukan sesuai kode etik jurnalistik, namun jawaban tetap tidak menjawab inti persoalan dugaan kekerasan terhadap siswa.
Korban Pilih Pindah Sekolah
Akibat kejadian tersebut, Denis memutuskan pindah sekolah. Ia kini melanjutkan pendidikan di SMP lain, meninggalkan trauma yang diduga belum terselesaikan.
> “Saya langsung pindah setelah kejadian,” katanya.
Keluarga Siap Tempuh Jalur Lanjutan
Pihak keluarga korban dikabarkan tengah bersiap untuk menindaklanjuti kasus ini ke ranah yang lebih serius.
Publik Menanti Ketegasan
Sikap pihak sekolah yang tidak memberikan klarifikasi langsung terkait dugaan kekerasan ini justru menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.
Alih-alih memberikan penjelasan transparan, publik menilai pengalihan ke “Pokja” tanpa kejelasan justru memperkeruh situasi.
Jika benar terjadi, ini bukan sekadar pelanggaran disiplin, melainkan bentuk kekerasan di dunia pendidikan yang tidak bisa ditoleransi.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas dari pihak terkait untuk mengungkap kebenaran di balik kasus ini,bukan sekadar jawaban normatif yang menggantung.
