Ratusan Warga Ngronggo Gelar Tahlilan 7 Hari Balita Korban Kekerasan, Wawali Kediri Sampaikan Pesan Ketakwaan dan Kepedulian

KRISNANEWSTV.COM || KEDIRI – Suasana duka masih menyelimuti warga Dusun Baudendo, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri. Ratusan masyarakat menggelar pengajian dan tahlilan tujuh hari meninggalnya seorang balita yang diduga menjadi korban kekerasan dalam keluarga, Selasa (21/4/2026) malam.
Kegiatan doa bersama tersebut berlangsung di lingkungan RW 06 Dusun Baudendo dan dihadiri lebih dari 300 warga. Acara ini menjadi bentuk empati sekaligus penghormatan terakhir bagi korban yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.
Sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Wali Kota Kediri K.H. Qowimuddin Thoha, S.H. atau yang akrab disapa Gus Qowim, perwakilan kecamatan, Lurah Ngronggo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Ketua RW 06 Yusuf, serta berbagai elemen masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Qowim menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya meningkatkan keimanan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa setiap perbuatan manusia tidak terlepas dari pengawasan Allah SWT.
“Setiap amal, sekecil apa pun, akan dipertanggungjawabkan. Termasuk sedekah dan infak yang tidak akan mengurangi harta, justru akan diganti dengan kebaikan yang lebih besar,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia juga menegaskan bahwa berbagi tidak harus menunggu kondisi lapang. Menurutnya, salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu bersedekah baik dalam keadaan cukup maupun terbatas.
Selain itu, dalam tausiyahnya disampaikan bahwa sedekah dapat menjadi salah satu jalan keluar dari kesulitan hidup serta bentuk perlindungan dari berbagai keburukan, baik di dunia maupun di akhirat.

Kegiatan tahlilan ini tidak hanya menjadi momen doa bersama, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan warga yang turut berduka atas peristiwa tersebut. Kehadiran berbagai unsur pemerintah dan aparat keamanan menunjukkan perhatian serius terhadap kondisi sosial masyarakat pasca kejadian.
Di akhir acara, kegiatan ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol selamatan. Tradisi tersebut dimaknai sebagai bentuk doa dan harapan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta lingkungan sekitar senantiasa dijauhkan dari musibah.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diimbau untuk terus memperkuat kepedulian sosial, menjaga lingkungan yang aman bagi anak-anak, serta meningkatkan nilai keimanan dan kebersamaan. Peran aktif semua pihak sangat dibutuhkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Jurnalis : Mohamad Yunus
