Puskesmas Purwoasri Bekali Guru MAN 2 Kediri dengan Edukasi Kesehatan Remaja, PHBS, dan Pencegahan Kekerasan

KEDIRI | KrisnaNewsTV.com — Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan ramah bagi peserta didik terus dilakukan MAN 2 Kediri. Salah satunya melalui kolaborasi dengan Puskesmas Purwoasri dalam kegiatan sosialisasi kesehatan remaja, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak (KtP/A).

Kegiatan yang digelar pada Selasa, 1 September 2026 tersebut berlangsung di Meeting Room MAN 2 Kediri dan diikuti oleh Bapak dan Ibu Guru MAN 2 Kediri.

Sosialisasi ini menjadi bagian dari langkah madrasah untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik dalam memahami berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja.

Sebagai sosok yang setiap hari berinteraksi langsung dengan peserta didik, guru tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam proses pembelajaran akademik. Lebih dari itu, guru juga memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan, membangun kesadaran, sekaligus menciptakan suasana madrasah yang sehat dan aman.

Kesehatan Reproduksi Remaja Jadi Perhatian

Tim Puskesmas Purwoasri terlebih dahulu memberikan materi mengenai kesehatan reproduksi remaja.

Para guru mendapatkan pemahaman bahwa kesehatan reproduksi tidak sebatas persoalan terbebas dari penyakit atau kecacatan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi mental dan sosial seseorang.

Masa remaja merupakan fase peralihan menuju kedewasaan yang diwarnai berbagai perubahan biologis, psikologis, maupun sosial. Karena itu, pemahaman yang benar menjadi bekal penting agar remaja mampu menghadapi berbagai perubahan tersebut secara sehat dan bertanggung jawab.

Materi tersebut diharapkan dapat membantu para guru dalam memberikan edukasi kepada peserta didik secara tepat, bijak, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

PHBS Didorong Menjadi Budaya Madrasah

Pembahasan kemudian berlanjut pada Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan sekolah.

Sejumlah kebiasaan sederhana namun penting kembali ditekankan, mulai dari mengonsumsi jajanan sehat, mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan sanitasi, melakukan aktivitas fisik, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok, menjaga berat badan, hingga membuang sampah pada tempatnya.

Penerapan PHBS diharapkan tidak berhenti sebagai kebiasaan individu, tetapi berkembang menjadi budaya bersama di lingkungan madrasah.

Dalam konteks tersebut, guru memiliki posisi strategis karena dapat menjadi contoh sekaligus penggerak bagi peserta didik untuk menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian.

Guru Dibekali Cara Mengenali Kekerasan

Materi berikutnya membahas pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak (KtP/A).

Para guru mendapatkan wawasan mengenai berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, seksual, psikologis maupun penelantaran. Tidak hanya mengenali bentuk kekerasan, peserta juga diajak meningkatkan kepekaan terhadap tanda-tanda seseorang yang kemungkinan sedang mengalami kekerasan.

Dalam menghadapi situasi tersebut, guru diharapkan mampu memberikan respons yang tepat. Di antaranya dengan menjadi pendengar yang baik, menjaga privasi, memberikan dukungan tanpa menghakimi, serta mengarahkan korban untuk memperoleh pendampingan dan bantuan dari pihak yang kompeten.

Termasuk apabila diperlukan, korban dapat diarahkan untuk mendapatkan pendampingan dari tenaga kesehatan maupun pihak terkait lainnya.

Sinergi untuk Madrasah yang Sehat dan Aman

Antusiasme Bapak dan Ibu Guru terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Sosialisasi tidak hanya menjadi ruang untuk menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi momentum membangun kepedulian bersama terhadap kesehatan, keamanan, serta perlindungan peserta didik.

Kolaborasi MAN 2 Kediri bersama Puskesmas Purwoasri diharapkan dapat terus diperkuat. Pengetahuan yang diperoleh para guru diharapkan dapat diterapkan dalam pendampingan sehari-hari sehingga madrasah benar-benar menjadi ruang yang nyaman bagi peserta didik untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan masa depan.

Melalui sinergi tersebut, MAN 2 Kediri menunjukkan bahwa pendidikan tidak semata-mata berbicara tentang pencapaian akademik.

Lebih jauh, pendidikan juga menyangkut kesehatan, keselamatan, karakter, serta tumbuh kembang peserta didik secara utuh.

Dengan kepedulian dan kolaborasi bersama, madrasah sehat, aman, dan ramah anak bukan sekadar harapan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang terus dibangun.mbageng