FAMILY PARENTING PKK REJOTANGAN: SAAT KELUARGA MULAI RAPUH, EDUKASI TAK BOLEH SEKADAR SEREMONIAL
Rejotangan, 17 April 2026 — Di tengah melonjaknya angka perceraian yang tak lagi bisa dianggap sebagai persoalan privat semata, PKK Kecamatan Rejotangan menggelar sosialisasi family parenting sebagai upaya memperkuat kembali fondasi keluarga yang mulai rapuh.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Rejotangan ini menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat bahwa krisis keluarga hari ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan akumulasi dari lemahnya komunikasi, minimnya edukasi pengasuhan, serta kurangnya kesadaran akan peran dalam rumah tangga.
Hadir sebagai narasumber, Ketua Ormas 212 Rakyat Makmur Sejahtera, Rahmat Putra Perdana, secara tegas menyoroti realitas yang kerap diabaikan: banyak rumah tangga berjalan tanpa arah komunikasi yang sehat.
“Banyak pasangan hidup dalam satu rumah, tapi tidak benar-benar saling memahami. Ini yang kemudian menjadi bom waktu dalam keluarga,” ungkapnya.
Ia menegaskan, peran suami dan istri tidak bisa lagi dipandang sebatas rutinitas kewajiban. Tanpa komunikasi yang jujur dan saling mendukung, keluarga hanya menjadi struktur tanpa makna.
Data dari Pengadilan Agama Tulungagung mencatat 1.577 perkara perceraian sepanjang tahun 2025. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kondisi sosial yang perlu ditanggapi serius, bukan hanya dengan kegiatan seremonial, tetapi dengan langkah berkelanjutan.
Camat Rejotangan, Djarot, dalam sambutannya mengakui pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama masyarakat. Namun demikian, ia juga menekankan bahwa perubahan tidak akan terjadi jika kesadaran hanya berhenti di ruang acara.
“Kegiatan seperti ini harus menjadi gerakan nyata, bukan sekadar agenda rutin. Keluarga adalah pondasi, jika rapuh, maka dampaknya luas ke masyarakat,” tegasnya.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kebutuhan akan edukasi parenting masih sangat tinggi. Diskusi berlangsung aktif, mengindikasikan bahwa banyak persoalan keluarga yang selama ini terpendam dan belum mendapatkan ruang penyelesaian yang tepat.
Salah satu peserta bahkan menyampaikan harapan agar kegiatan serupa tidak hanya menyasar ibu-ibu, tetapi juga melibatkan para suami secara langsung.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa beban pengasuhan masih kerap dianggap sebagai tanggung jawab sepihak, padahal keberhasilan keluarga bergantung pada kerja sama yang setara.
Selama 1 jam 15 menit, kegiatan diisi dengan pemaparan materi, diskusi interaktif, hingga refleksi diri. Namun yang lebih penting dari itu adalah bagaimana hasil dari kegiatan ini benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup kegiatan, narasumber mengingatkan bahwa krisis keluarga bukan lagi isu kecil yang bisa ditunda.
“Jika keluarga terus diabaikan, maka kita sedang menyiapkan masalah sosial yang lebih besar di masa depan,” pungkasnya
Narsum: ketua umum 212
Penulis : M aril
