Mengenal Sosok Advokat Muda yang Mengabdi 24 Jam untuk Keadilan Tanpa Sekat Status Sosial

Krisnanewstv.com — Di tengah sorotan publik terhadap dunia hukum yang kerap dianggap elitis dan berjarak dengan masyarakat kecil, muncul sosok advokat muda yang memilih jalan pengabdian.

Bukan sekadar menjalankan profesi, ia menjadikan hukum sebagai alat pelayanan—hadir 24 jam untuk masyarakat pencari keadilan, tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun politik.

Dengan semangat kerja keras dan konsistensi, advokat muda ini telah membuktikan kapasitasnya di level nasional maupun daerah.

Kepercayaan besar pernah diemban saat ia didapuk sebagai Ketua Tim Hukum pasangan Capres dan Cawapres Ganjar Pranowo–Mahfud MD, sebuah peran strategis yang menuntut integritas, kecermatan, serta keteguhan prinsip hukum di tengah dinamika politik nasional.

Tak hanya itu, kiprahnya juga tercatat dalam kontestasi politik daerah, ketika ia dipercaya sebagai bagian penting Tim Hukum Cabup dan Cawabup Kediri, Mas Dhito–Mbak Dewi.

Peran tersebut semakin menegaskan reputasinya sebagai advokat yang tidak hanya piawai di ruang sidang, tetapi juga mampu menjaga marwah hukum dalam proses demokrasi.

Menariknya, di balik kesibukan profesional, ia tetap menjaga dimensi spiritual dan religius. Ia dikenal sebagai santri Den Gus Thuba, cucu dari ulama karismatik almarhum Gus Miek Mojo Kediri, tokoh yang dikenal luas dengan ajaran dan jalan dakwahnya yang membumi.

Dalam lingkaran spiritual tersebut, dikenal istilah YAKUZA—bukan merujuk pada stigma kelompok kriminal Jepang, melainkan sebuah filosofi kehidupan: “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Azali.” Sebuah makna mendalam bahwa manusia, seburuk apa pun masa lalunya, selalu memiliki jalan untuk berubah, membersihkan diri, dan menuju kesucian batin yang abadi.

Nilai itulah yang tampak tercermin dalam perjalanan hidup dan profesinya. Baginya, hukum bukan sekadar teks undang-undang, melainkan sarana perjuangan moral—tempat keadilan harus hadir bagi siapa saja, terutama mereka yang kerap terpinggirkan.

Di saat banyak profesi hukum terjebak pada formalitas dan kepentingan, sosok advokat muda ini menghadirkan harapan: bahwa integritas, spiritualitas, dan pengabdian masih dapat berjalan beriringan.

Sebuah potret bahwa keadilan sejati lahir bukan hanya dari kepandaian hukum, tetapi juga dari nurani.

Jurnalis niko