Kericuhan Warnai Pembukaan Kantor Kabiro Indonesia Post di Kediri, Ejekan Penonton Picu Adu Jotos

Kediri, Krisnanewstv.com — Acara pembukaan kantor Kabiro Indonesia Post yang berlokasi di Kewedusan, Kecamatan Plosoklaten, pada Minggu (30/11/2025) seharusnya menjadi momentum penting dan penuh kebanggaan. Namun, suasana meriah tersebut berubah panas di penghujung acara setelah terjadi kericuhan dalam pentas seni jaranan yang menghadirkan grup Tresno Budoyo.
Sejak awal hingga pertengahan acara, jalannya pertunjukan berlangsung meriah dan gayeng. Penonton tampak antusias menikmati atraksi budaya Jawa itu. Namun menjelang akhir acara, suasana mendadak berubah ketika beberapa oknum penonton melontarkan ejekan kepada Barongan yang sedang tampil.
Ejekan tidak perlu itu langsung memancing emosi para pemain. Dalam hitungan detik, sang Barongan bereaksi spontan dan mengejar si pengejek. Situasi langsung memanas—kerumunan panik, dorong-mendorong terjadi, teriakan memenuhi udara, hingga aksi adu jotos tak terhindarkan. Pertunjukan budaya yang seharusnya menjadi hiburan justru berubah menjadi kekacauan.
Kericuhan ini jelas merugikan tuan rumah, Agus, yang rencananya akan diangkat sebagai Kabiro Indonesia Post. Alih-alih meninggalkan kesan positif, acara peresmian ini justru viral akibat insiden tidak terpuji yang terjadi di penghujung acara.
Saat dikonfirmasi tim Krisnanewstv, Agus menegaskan bahwa seluruh persoalan terkait keributan, termasuk aksi adu jotos yang terekam warga, telah diserahkan sepenuhnya kepada Polsek , Plosoklaten untuk ditindaklanjuti.

Pimpinan Redaksi Krisnanewstv Angkat Bicara
Pimpinan Redaksi Krisnanewstv turut angkat bicara dan menyayangkan kejadian ini dengan sangat mendalam. Menurutnya, seni budaya—apa pun bentuknya—merupakan cermin peradaban sebuah masyarakat.
Ketika penonton gagal menjaga sikap,
ketika penghormatan terhadap pelaku seni mulai sirna,
yang hilang bukan hanya ketertiban,
melainkan martabat budaya yang seharusnya dijunjung dan dilestarikan bersama.
Insiden ini diharapkan menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Menjaga seni tradisi bukan hanya tugas para pemain jaranan, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat sebagai pewaris budaya.
Sebab budaya hanya akan tetap hidup
ketika kita menontonnya dengan hormat,
menjaganya dengan hati,
dan merawatnya dengan penuh kesadaran.(Niko)
