Di Balik Keindahan Pantai Selok, Tersimpan Sejuta Potensi Bernilai Seni

Malang – krisnanewstv.com | Keindahan pesisir Malang Selatan memang tak pernah habis untuk dibicarakan. Kawasan Pantai 3 in One — yang mencakup Pantai Ngentup, Pantai Banyu Meneng, dan Pantai Selok — telah lama dikenal sebagai surganya wisata bahari di Jawa Timur. Namun siapa sangka, di balik deburan ombak dan rindangnya pepohonan, Pantai Selok menyimpan potensi baru yang menginspirasi: dari sampah menjadi karya seni.

Pantai Selok yang asri dan menenangkan, kini tak hanya menjadi tempat refreshing bagi keluarga atau komunitas, tapi juga menjadi ruang berkarya bagi para seniman daur ulang. Limbah alam seperti kelapa gabut dan kayu-kayu yang terbawa ombak dan terdampar di bibir pantai, yang dulunya hanya dianggap sampah dan dibakar, kini justru menjadi berkah di tangan kreatif para pengrajin.

Dua di antaranya adalah Bapak Wartin dan Bapak Sukar dari Wates, Blitar. Pada Minggu (5/8/2025), mereka tampak mengumpulkan kelapa gabut di sepanjang garis Pantai Selok. Dari tangan mereka, benda-benda yang tak bernilai itu disulap menjadi topeng-topeng artistik dan pahatan kayu berbentuk ular, burung garuda, dan berbagai karakter lain — semua dibuat tanpa sketsa, langsung dari imajinasi dan keterampilan mereka.

“Dulu saya lihat banyak kelapa dan kayu berserakan di pinggir pantai, kepikiran hanya untuk dibakar agar bersih. Tapi sekarang justru jadi bahan utama karya seni,” kata Mbah Juki, pengelola wisata Pantai Selok sekaligus pemilik Kedai 47.

Ia juga menambahkan, ke depan pihak pengelola merencanakan untuk membuat galeri seni di Pantai Selok, tepatnya di Kedai 43 dan Kedai 47, sebagai wadah pamer sekaligus daya tarik baru bagi wisatawan.

Mbah Dahnu, pemilik Kedai 43, turut menyambut baik inisiatif tersebut.

“Saya sangat bahagia melihat para pengrajin begitu peduli dan turut mengangkat nama Pantai Selok. Mudah-mudahan ini bisa berjalan lancar dan memberi manfaat,” ujarnya.

Bapak Wartin dan Bapak Karno, dua pengrajin yang aktif berkarya di Pantai Selok, mengatakan bahwa proses kreatif mereka berjalan tanpa konsep rumit, namun langsung praktik di lapangan. Bahkan mereka menyebutnya sebagai “sinau bareng” (belajar bersama).

“Biasanya kelapa gabut dan kayu kami bakar, sekarang kami jadikan topeng, patung burung, dan banyak lagi. Semua kami buat langsung tanpa sketsa. Ini jadi tempat belajar dan berkarya bersama,” tutur mereka.

Langkah ini menjadi angin segar bagi pengembangan wisata kreatif di Pantai Selok, yang berada di bawah koordinasi Bapak Inung, tokoh yang turut mendorong partisipasi UMKM agar bisa berjualan dan berkembang di kawasan Pantai 3 in One.


Penulis: Suryadi
Editor: Redaksi krisnanewstv.com