Pupuk Langka, Harga Selangit, Petani Sayur Pagelaran Terjepit Beban Modal Tanam
Krisnanewstv.com, MALANG – Kelangkaan pupuk bersubsidi dan mahalnya pupuk nonsubsidi menjadi beban berat bagi petani sayur di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Di tengah kebutuhan pupuk yang tak bisa ditunda, petani harus merogoh kocek lebih dalam demi menjaga tanaman tetap tumbuh dan menghasilkan panen berkualitas.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Aspandi, salah satu petani sayur di Pagelaran. Ia mengungkapkan, ketersediaan pupuk bersubsidi di tingkat pengecer sangat terbatas. Sementara itu, harga pupuk nonsubsidi terus membebani biaya produksi.
“Pupuk subsidi kuotanya sangat terbatas dan sulit diakses petani sayur. Terpaksa kami membeli pupuk nonsubsidi di pasar bebas yang harganya terus naik. Modal untuk pupuk dan perawatan sudah hampir dua kali lipat dibanding musim tanam sebelumnya,” ungkap Aspandi, Rabu (4/11/2026).
Bagi petani hortikultura, pupuk menjadi kebutuhan penting yang tidak bisa ditunda. Tanaman sayur membutuhkan perawatan tepat waktu agar pertumbuhannya optimal dan hasil panen tetap terjaga.
Namun, tingginya biaya produksi tidak selalu sejalan dengan keuntungan yang diperoleh. Harga sayuran di pasar yang fluktuatif membuat petani harus menghadapi risiko kerugian ketika harga jual turun saat panen.
“Kalau modal tanam sudah mahal karena pupuk langka dan harganya tinggi, begitu panen harga turun sedikit saja kami bisa rugi. Kami berharap pemerintah, khususnya Dinas Pertanian, turun tangan mengawasi distribusi pupuk agar tidak terjadi permainan harga. Kuota pupuk juga perlu lebih adil bagi petani sayur,” ujarnya.
Air Melimpah, Hasil Panen Baik, Harga Pupuk Tetap Jadi Beban
Di balik persoalan pupuk, Aspandi menyebut kondisi pengairan di wilayahnya relatif baik. Ketersediaan sumber mata air dan sumur sendiri membantu petani memenuhi kebutuhan air untuk tanaman.
Ia mengelola lahan pertanian di depan Polsek Pagelaran dengan menanam berbagai komoditas sayuran, seperti kacang panjang, buncis, terong, mentimun, dan tomat.
Menurutnya, hasil panen tahun ini cukup menguntungkan ketika kondisi tanaman dan harga jual mendukung.
“Kalau hasil panennya bagus, keuntungannya juga sangat terasa. Kebetulan tahun ini hasil panen saya cukup baik dan menguntungkan,” terang Aspandi.
Meski demikian, persoalan harga pupuk masih menjadi perhatian utama. Ia menyebut harga pupuk nonsubsidi yang dibelinya saat ini mencapai sekitar Rp1,2 juta. Menurutnya, harga tersebut terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kemampuan modal petani.
Aspandi berharap harga pupuk nonsubsidi bisa ditekan hingga kisaran Rp700 ribu sampai Rp800 ribu. Ia menilai, dengan harga yang lebih terjangkau, petani memiliki peluang lebih besar untuk menutup biaya produksi dan memperoleh keuntungan.
“Kalau harga pupuk sampai Rp1,2 juta, untuk menanam jagung saja sudah tidak nutut atau tidak sebanding dengan hasilnya. Kami berharap harganya bisa lebih terjangkau,” pungkasnya.
Petani Menunggu Langkah Nyata
Kondisi pertanian di Pagelaran menunjukkan bahwa ketersediaan air yang baik belum cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha tani. Petani juga membutuhkan akses pupuk yang memadai dengan harga yang sesuai kemampuan mereka.
Berdasarkan pantauan awak media, kondisi pengairan di wilayah Pagelaran relatif baik dan patut diapresiasi. Namun, persoalan ketersediaan serta keterjangkauan harga pupuk masih membutuhkan perhatian dan pembinaan dari pihak terkait.
Para petani berharap pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dapat melakukan evaluasi distribusi pupuk, memastikan kebutuhan petani hortikultura terakomodasi, serta mengupayakan solusi agar biaya produksi tidak terus membengkak.
Bagi petani, pupuk bukan sekadar kebutuhan produksi. Ketersediaannya menentukan keberlangsungan usaha tani, pendapatan keluarga, sekaligus keberlanjutan pasokan sayuran bagi masyarakat.
Kini, yang dibutuhkan petani bukan sekadar panen yang melimpah, tetapi juga kepastian bahwa biaya untuk menanam tidak terus menggerus hasil kerja mereka.
(Suryadi)
