Larung Sesaji Gunung Kombang ke-117: Merawat Warisan Leluhur, Menjaga Harmoni dengan Alam

MALANG, Krisnanewstv.com — Debur ombak Pantai Ngliyep berpadu dengan nuansa khidmat ketika masyarakat Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, kembali menjalankan tradisi Larung Sesaji Gunung Kombang.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun selama 117 tahun itu kembali digelar pada Jumat (28/8/2026) di kawasan Unit PD Jasa Yasa, Pantai Ngliyep. Bagi masyarakat Kedungsalam, larung sesaji bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan sejarah, budaya, sekaligus ungkapan rasa syukur yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, bersama Rumah Lumbung dan Kebudayaan Kabupaten Malang.

Sejumlah unsur Forkopimcam Donomulyo turut hadir, di antaranya Camat Donomulyo Nurnawan Wibowo Leksono, S.STP., M.Si., Kapolsek Donomulyo AKP Gunawan Marsudi, S.Pd., serta Danramil Donomulyo Kapten Inf Sunarko.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Malang. Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. turut memberikan dukungan dan diwakili oleh DPMD Kabupaten Malang, Nurcahyo, S.H., M.Hum.

Tak hanya pemerintah dan tokoh masyarakat, RAPI Kabupaten Malang (Radio Antar Penduduk Indonesia) juga ikut mengambil bagian. Ketua RAPI Kabupaten Malang Agung Punianto menggerakkan anggota untuk membantu mendukung kelancaran kegiatan.

Plt. Unit PD Jasa Yasa, Arifin, bersama masyarakat setempat juga turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan tradisi yang telah melewati perjalanan panjang selama lebih dari satu abad tersebut.

Bukan Sekadar Ritual, Ada Pesan untuk Generasi Muda

Mengusung tema “Syukur untuk Alam, Lestari untuk Masa Depan”, Larung Sesaji Gunung Kombang menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan yang diterima selama ini.

Di sisi lain, tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa manusia memiliki hubungan erat dengan alam.

Kawasan laut selatan, termasuk Pantai Ngliyep dan Gunung Kombang, tidak hanya dipandang sebagai bentang alam, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal yang kuat bagi masyarakat Malang Selatan.

Pesan itulah yang terus ingin diwariskan. Bahwa menjaga tradisi tidak harus berhenti pada prosesi budaya, tetapi juga harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Suasana semakin semarak dengan hadirnya berbagai kesenian tradisional. Reog, Jaranan, dan Bantengan ikut menghidupkan kawasan kegiatan sekaligus menjadi panggung bagi kesenian lokal agar tetap dikenal dan dicintai generasi muda.

117 Tahun dan Tetap Dijaga

Perjalanan selama 117 tahun tentu bukan waktu yang singkat. Di balik tradisi tersebut terdapat cerita, doa, kebersamaan, dan komitmen masyarakat untuk menjaga warisan leluhur.

Larung Sesaji Gunung Kombang menjadi salah satu cara masyarakat Kedungsalam mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Harapannya, generasi muda tidak hanya mengenal tradisi sebagai cerita masa lalu, tetapi memahami nilai yang terkandung di dalamnya: rasa syukur, kebersamaan, penghormatan terhadap alam, serta kecintaan terhadap budaya sendiri.

Karena sebuah tradisi akan tetap hidup bukan hanya karena dilaksanakan, tetapi karena ada generasi yang mau mengenal, menjaga, dan meneruskannya.

Dari Gunung Kombang, masyarakat Kedungsalam kembali menitipkan pesan sederhana namun penuh makna:

“Lestarikan Tradisi, Jaga Alam, Jaga Budaya.”

Penulis : Aripin

Editor : Redaksi