YAKUZA MANEGES Kediri Gaspol Bela Rakyat Kecil, Oknum Polisi Tersudut di Kasus Kredit Ilegal

 

 

KEDIRI – Di tengah pusaran kasus dugaan kredit ilegal yang menyeret oknum anggota Polresta Kediri berinisial A.P.S, langkah berani justru lebih dulu datang dari jalur non-formal. Bukan dari aparat penegak hukum, melainkan dari gerakan masyarakat yang dipimpin tokoh nyentrik, Den Gus Thuba (DGT).

 

Melalui Yakuza Maneges Kediri, cucu ulama karismatik Gus Miek ini tampil di garis depan, mengusung pendekatan restorative justice demi membela warga kecil yang terdzolimi.

 

Kasus ini bermula dari aduan Moh. Subkhan, warga Desa Kayen, yang mengaku dirugikan hingga Rp140 juta. Tanah miliknya dibeli oleh oknum polisi tersebut dengan skema pembayaran separuh, namun ironisnya, sertifikat justru langsung dijadikan agunan ke Bank BRI tanpa pelunasan sisa hak korban.

Alih-alih langsung menggiring ke meja hijau, Yakuza Maneges memilih jalur mediasi yang lebih membumi. Bagi DGT, keadilan bukan sekadar vonis, tetapi bagaimana hak korban bisa kembali secara nyata.

 

Gerakan ini pun tak sekadar wacana. Dalam koordinasi intens dengan Polres Kediri Kota dan Propam, tekanan moral dan sosial yang dibangun Yakuza Maneges membuahkan hasil. Oknum A.P.S akhirnya menunjukkan itikad baik dengan menyerahkan tambahan Rp10 juta serta satu sertifikat tanah sebagai jaminan.

 

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa keadilan tidak selalu harus menunggu proses hukum yang panjang dan berbelit.

 

> “Kami tidak ingin masyarakat kecil kalah sebelum bertarung. Hak mereka harus kembali, itu yang utama. Restorative justice jadi jalan agar korban tidak terus dirugikan,” tegas salah satu pasukan Yakuza Maneges.

 

 

 

Meski demikian, perkara ini belum selesai. Oknum A.P.S tetap harus berhadapan dengan Kejaksaan Kediri, menyusul dugaan pelanggaran prosedur perbankan di Bank BRI yang berpotensi menyeret kerugian negara.

 

Kasus ini menjadi tamparan keras: di saat kepercayaan publik terhadap oknum aparat diuji, justru gerakan masyarakat dan tokoh agama hadir sebagai penyeimbang—mengawal keadilan agar tidak tumpul ke bawah.

 

Di Kediri, pesan itu kini menggema jelas: rakyat kecil tidak lagi sendirian.

Pewarta :farid