TAKBIR AKBAR WARGA KETANEN BERGEMA, TRADISI TAHUNAN PENUH KEKOMPAKAN
MALANG | KRISNANEWSTV.COM – Semangat malam takbiran terasa begitu hidup di wilayah Ketanen, Kelurahan Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (20/3/2026). Warga dari RT 1 hingga RT 5 serentak menggelar takbir keliling akbar yang telah menjadi agenda tahunan penuh makna.
Dengan penuh antusias, warga dari berbagai kalangan—mulai anak-anak hingga orang dewasa—berbondong-bondong mengikuti kegiatan ini. Lantunan takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” menggema sepanjang perjalanan, dipimpin langsung oleh Ketua RW 5, Suwarno.
Kemeriahan semakin terasa dengan iringan sound system “horeg” hasil swadaya warga, termasuk dukungan dari Bapak Diono. Suasana kebersamaan begitu kental, mencerminkan kekompakan dan kerukunan warga Ketanen dalam menyambut Hari Raya Idulfitri.
Tak hanya itu, nuansa tradisional juga turut dihadirkan melalui penggunaan obor (oncor) yang dibawa anak-anak. Tradisi ini menjadi simbol warisan masa lampau, ketika penerangan masih mengandalkan api sebagai cahaya utama.
Berbagai atribut turut memeriahkan arak-arakan, seperti bendera bertuliskan “WT” (Warga Ketanen) serta slogan khas bahasa Malangan “Sepurone Luur”. Selain itu, kendaraan tosa yang dinaiki anak-anak juga menambah semarak suasana malam takbiran.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi langsung dari Lurah Penarukan, Sugeng Harianto. Ia mengaku bangga dengan kekompakan warga RW 5.
> “Luar biasa RW 5 ini, sangat kompak dan antusias dalam melaksanakan takbir keliling,” ungkapnya saat ditemui awak media.
Adapun rute takbir keliling dimulai dari Musholla Baitul Muslim (RT 4 Ketanen), kemudian menuju Kampung Tengah Penarukan, belok ke arah Kedung, dan kembali ke Ketanen melalui RT 2 hingga finish kembali di Musholla Baitul Muslim.
Menariknya, panitia juga menyiapkan berbagai hadiah undian untuk warga. Mulai dari ayam potong, sarung, kopiah, hingga peralatan rumah tangga seperti panci, baskom, dan keranjang. Hadiah tersebut merupakan hasil swadaya dan sumbangan warga, di antaranya dari Hadi (RT 5), Johan Untung, serta Turmudi (RT 4).
Kegiatan ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi dan menjaga nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
(Muslich)
